Minggu, 27 Oktober 2013

Dear My Ex-Boyfriend


 To : Ayek.
            Hey, how are you? I know, we haven’t talked for so much time, but that doesn’t mean I don’t think about you each day and every day. Honey, you just don’t know.
            I have tried so hard to fight these feelings I have, but I can't do it anymore. So many nights I have cried my eyes out, missing you so much, but I’m too afraid to pick up the phone. Because I’m so much afraid you’ll tell me that u don’t love me anymore. Because I’m so much falling in love with you and this feeling grows deeper and deeper each day. Sweetheart, you just don’t know.
            I close my eyes and let my thoughts of you flow. I carry on a conversation in my mind between us, as we tell of our hopes and our dreams. All the 'what if', that we've ever dream of.  I picture your arms around me, my head upon your chest, your fingers gently circle over my skin and many more. Hhh. Each time that you touch me, feels like 'that was the first time'. You make a slight laugh, mixed with a cry such as a beautiful feeling. And I really can’t forget all those moment above. Baby, you just don’t know.
            Honey . . . I really can't believe. We're apart. Yea, we're apart. But baby, our life still must go on, rite? Maybe I'm not the one u're searching for. Maybe we're too young to be the best couple ever. Maybe we have to find another one to know, do I love him more than I loved U?
           My love, maybe this is d'last chapter of our love pages , but this isn't d'last of our story cuz' our love was everlasting. Hope u happy and full of joy. Happy new year 2011.

December, 31th 2010
With love,
Nna bodoh

NB : note ini gue masukkan ke blog gue sebagai sebuah tanda penyesalan dari kegagalan hubungan gue dengannya. He was a really nice guy. He teaches me how to love, and how it taste. Forgive me for all that I've done.Thank's for all those thing my-ex, hope the best for you. 

Meet And Greet FA With Wanabees



                Sabtu, 27 Oktober kemarin gue diundang sebagai salah satu narasumber oleh sebuah komunitas bagi para FA maupun FA wannabees untuk hadir ke acara pertemuan mereka di Masterpiece Ahmad Dhani Karaoke di Sarinah-Thamrin. Komunitas ini bisa kalian temukan di twitter dengan nama account @tentangmugari. Acara ini adalah event pertama mereka, dan gue turut senang karena dengan undangan ini, gue bisa berbagi lebih leluasa dengan para wannabees karena sebelumnya gue hanya bisa berbagi melalui blog dan line. Gue juga merasa terbantu, karena bagaimanapun gue bisa menghemat waktu dengan cara bertatap muka langsung dengan puluhan orang sekaligus. Terus terang saja, dengan berbagai kesibukan untuk training Batik air dan mempersiapkan pernikahan gue di Bali, gue nyaris ga punya waktu untuk menulis lagi blog gue tercinta ini. Belum lagi ada sekitar 5-10 orang setiap harinya yang aktif nge-line gue dengan beberapa pertanyaan yang sama, jujur aja… gue mulai keteteran.
                Maka dari itu gue langsung setuju ketika mereka mengundang gue (dengan diantar Pak Pilot kesayangan gue yang ga tega ngeliat gue jalan di Jakarta sendirian). Kebetulan juga gue memang ga ada kesibukan di tanggal ini. Maka disanalah gue berdiri, memberikan tutorial make-up yang bisa dipergunakan saat perekrutan.Model saat itu gue rias dengan warna-warna 'cheerful' yang bisa dipergunakan saat interview di beberapa maskapai seperti Lion Air atau Air Asia.
                Kebetulan saat training di Lion dan Batik air, gue memang mendapat beauty class. Gue pun memang lebih mahir mendandani orang daripada mendandani diri gue sendiri. Tidak hanya make-up, gue juga memberi tutorial untuk membuat sanggul ala French twist loh! Banyak yang menanyakan kepada gue cara membuat sanggul ala ‘pramugari’ yang satu ini, tapi gue ga bisa menjelaskannya melalui tulisan. Jadi pada kesempatan ini lah, gue bisa memberikan tutorialnya. Beberapa airlines memang tidak mengharuskan kalian menggunakan French Twist saat perekrutan, namun make-up yang didukung dengan sanggul yang rapi tentu bisa menjadi nilai plus nantinya. Salah satu model yang gue jadikan ‘qurban’ kemarin pun terlihat memiliki aura seorang pramugari setelah gue dandani dan juga gue sanggul ala French twist, sayang gue belum mendapat setoran full foto-foto acara kemarin. Mungkin nanti akan menyusul.
Ujung kiri : thats my model!
                Yang menarik perhatian gue adalah kehadiran seorang peserta yang datang jauh dari Blitar khusus untuk acara ini. Naik kereta api sendirian berjam-jam demi sebuah pertemuan yang sarat informasi tentang profesi yang menjadi cita-citanya. That’s the power of dream!
Sumber : Account @masterpieceKTV
                Acara ini memang berjalan sukses, tempatnya oke dan teroganisir dengan baik. Tapi gue harap next event akan lebih baik lagi, lengkap dengan susunan acara yang lebih rapi dan makin banyak peserta yang ikut di acara meet up berikutnya. Percayalah, tidak ada yang rugi disaat kamu berusaha. Jika kalian berani bermimpi, maka kalian harus berani mengejarnya, sekalipun kalian harus mengorbankan waktu, tenaga bahkan biaya dengan naik kereta api dari Blitar hingga Jakarta.

Senin, 21 Oktober 2013

Radinna Nandakita

    Akhirnya tulisan ini kelar dan siap diposting. Udah lama banget gue pengen ngeposting ini, cuma karena tulisannya gak kelar-kelar, dengan terpaksa dipending dulu. Yap, bisa dilihat dari judulnya, kali ini gue akan membahas nama pena gue : NANDAKITA.
     To the point aja, apa sih Nandakita itu? Nandakita adalah nama pena dan nama blog gue. Bukannya gue gak suka dengan nama asli pemberian orangtua gue, tapi berhubung nama pena digunakan untuk hasil karya gue, sama aja seperti menamai anak sendiri, pasti pengennya yang sesuai keinginan lo kan? Lo punya anak cewek, gak mungkin dikasi nama Marjoko. Paling banter ya Markonah. Begitu juga dengan gue. Gue ingin tulisan gue dikenal dengan nama pemberian gue sendiri.
     Arti dari Nandakita? Simple, Nanda berarti anak dan Kita berarti... ya kita! Nandakita  berarti anak-kita. Simple banget kan?
     Kenapa harus Nandakita? Pertama, ketika orangtua gue menyebut 'Radinna Nandakita' saja, itu akan membuat dada gue berdesir...Rasanya terdengar seperti 'Radinna anak-kita' di telinga gue. Bahkan dengan menyebut nama itu saja, ada sebuah kebanggaan orangtua gue disana, bahwa '...ini loh Radinna, anaknya Ibu dan Bapak'. Dengan memakai nama Nandakita  gue harap akan selalu membuat kedua orangtua gue bangga. Meskipun gue badung, sebadung-badungnya cewek, gue ga akan pernah menyakiti hati mereka lagi dan mereka akan selalu memamerkan gue pada dunia, bahwa gue adalah 'Radinna Nandakita' mereka selamanya.
     Gak ada hubungannya dengan Maherda Ekananda? Engga tuh. Kebetulan aja nama belakang 'calon' gue itu ada unsur 'Nanda'-nya. Tapi kita berencana menamakan anak perempuan kami dengan Nariswari Nandakita atau Ishani Nandakita.
     Jadi? Udah ga penasaran kan, apakah Radinna Wikantari dan Radinna Nandakita itu orang yang sama? Jangan sampai terulang kejadian ketika gue reserve dulu, ada salah satu junior gue yang bilang "....by the way, nama Mbak mirip sama penulis blog itu. Tapi namanya Radinna Nandakita. Dia batch berapa sih Mbak? Kayanya junior banget kali yah? Soalnya kaya gak terima gitu sama senioritas di sini!"
    Hihihi... dia gak sadar, yang dikatain junior itu ada di hadapannya dan kami berselang sekitar 35 batch.

Tanya Jawab Bersama Liani Fransiska

   
             Ada request masuk dari @Lianifransiska yang kepo banget sama gue. Sepengingatan gue, dia adalah salah satu pembaca setia blog gue bahkan dari jaman gue belum punya twitter. Eh bener gak ya? Yah, begitulah pokoknya. Jadi ia mengirim DM via twitter yang intinya ingin gue membahas biodata pribadi gue dan mempostingnya di blog. Akhirnya setelah berbalas SMS (awalnya gue mau kasi ID line gue aja, tapi berhubung doi rada kudet, Cuma punya twitter dan HP buat SMS-an, yaudah gue kasi no HP gue gratisan) gue berusaha merangkum jawaban dari semua pertanyaan Liani Fransiska ini. Mudah-mudahan terpuaskan yaa…
Question    : Basic biodata donk Kak! Kaya nama, tempat-tanggal lahir, hobi dll.
Baiklah, nama asli gue Ketut Radinna Wikantari. That's why ID line gue radinnawikantari bukannya radinnanandakita. Nandakita adalah nama pena yang gue pake. Gue lahir di Singaraja (silahkan buka peta pulau Bali, dan lihat dibagian utara). Aslinya gue lahir tanggal 3 Februari, tapi karena orangtua gue terlambat mengurus akte, dengan terpaksa mereka harus merubah tanggal lahir gue menjadi 3 April. Gue anak ketika dari 3 bersaudara. Kadang kalo mood, gue bilang anak keempat dari 4 bersaudara. Itu karena 2 kakak laki-laki pertama gue adalah saudara kandung. Dan kakak perempuan nomor 3 adalah saudara tiri.  Kadang gue emang suka lupa kalo gue punya sodara tiri.
Hobi gue nonton film, baca buku, googling, berteater, nulis puisi, curhat ke diary, makan yang pedes-pedes, tidur di kelas (terutama kalo pengajarnya tipe guru yang suka ngoceh ngalur ngidul), dan ngerumpi. Apa lagi yah? Makanan favorit? Minuman favorit? Ga usah lah yaa, gue berasa balik ke jaman SD tuker-tukeran biodata yang mendetail banget sampe ke ukuran BH. By the way, ukuran gue 34 ya. Gue sukanya dikasih daleman warna pink kalem. Biar imut-imut!
Question     : Motto/visi/misi Kakak apa?
    Ini udah kaya perusahaan aja deh, pake visi-misi segala, gue jadi bingung mau jawab apaan. Gue harus jawab apa ini Liani?? (garuk-garuk tembok) Tapi kalo motto ada kok, gue biasanya pake motto ultra. Sekali bilas soalnya. (kayanya itu molto deh…)
Question    : Apa yang membuat Kakak yakin untuk terus mengejar mimpi?
    Gue adalah pekerja keras. Karakter wanita Bali yang terkenal giat bekerja ada banget di diri gue. Hal itu udah terlihat bahkan dari gue TK. Gue ikut kursus menari, gue ikut lomba menyanyi, gue ikut lomba modeling dan lain-lain. Gue gak pernah menang loh, tapi gue tetep semangat ikut lomba. Gue pengen tau, apa sih bakat yang gue miliki? Masuk SMA, gue baru menyadari potensi yang gue miliki. Gue pun berusaha mengembangkannya satu-persatu. Itu gue lakukan sembari tetap menjaga agar nilai-nilai akademik gue tetap bagus. Dan itu gak mudah. Gue bisa begadang hingga jam 12 malam untuk mengedit film, dan belajar hingga jam 3 pagi untuk belajar. Itu cukup rutin gue lakukan dimasa SMA gue. Berkat karakter dasar inilah gue gak mudah putus asa. Ketika gue gagal, gue berusaha untuk berpikir 'gue bukannya gagal. Hanya saja waktunya bukan sekarang. Lebih baik gagal dan memperbaiki diri daripada sukses dengan kualitas standar'. Ketika lo memimpikan sesuatu, benar-benar ingin menjadikannya nyata, lo gak akan pernah berfikir tentang gaji yang akan lo dapat atau waktu yang akan lo buang-buang untuk mimpi lo. Gue bermimpi menjadi penulis, gue gak peduli kalau nantinya pendapatan gue sebagai penulis gak sebesar ketika gue menjadi pramugari. Gue gak peduli gue menghabiskan waktu untuk menulis blog tanpa mendapat bayaran apapun. Karena ketika tulisan gue dibaca, apalagi bisa mengilhami pembaca, itu adalah kebanggan dan kesuksesan tersendiri bagi gue. Saat ini pun, ketika proyek buku gue mangkrak di tengah jalan, gue gak pernah berputus asa. Bagi gue, ini hanya masalah waktu dan rejeki. That's it.
Question    : Apakah dengan menjadi FA itu berarti Kakak berhasil mencapai cita-cita?
    Sekedar informasi, gue gak pernah bercita-cita menjadi seorang Flight Attendant. Gue melarikan diri untuk sekolah pramugari di Jogja karena gue tidak melanjutkan proses seleksi untuk sekolah di IPDN dan orangtua gue gak punya uang untuk membiayai kuliah gue di luar Bali. Sebaliknya, gue ngerasa, gue gak akan bisa mengembangkan potensi yang gue punya kalau gue hanya berdiam diri di kampung halaman. Maka gue memutuskan untuk sekolah pramugari di Jogja. Gue ingin lepas dari kungkungan orangtua gue yang protective sekaligus gue ingin berkembang. Jadi? Belum. Gue berhasil mencapai cita-cita gue yang sebenernya.
Question     : Perjuangan yang udah Kakak lalui apa aja?
    Untuk sekolah di Jogja gak mudah dan gak murah, pemirsa. Ngeyakinin orangtua gue supaya ngasi restu anak bontotnya ini merantau ke pulau Jawa itu susah banget. Tapi syukurnya, walaupun orangtua gue kadang suka over protective, mereka adalah alah satu orangtua yang demokratis. Mereka percaya bahwa gue sudah cukup dewasa untuk memilih sendiri jalan hidup gue sendiri. Mereka tidak pernah memaksa gue untuk menjadi guru atau polisi. Pada akhirnya mereka mendukung dan percaya gue 100% meskipun mereka tau berita miring tentang dunia pramugari. Karena itu lah, astungkara gue tidak akan pernah mengecewakan beliau.
    Selain kesulitan meminta restu, gue juga kesulitan dana. Tapi kalo memang jalan gue memang seperti ini, Tuhan gak bakal diem. Kakak pertama gue mendapat pinjaman Bank dan beliau lah yang membiayai gue dibantu dengan kedua orangtua gue. Yang paling berat sebenarnya bukan dari restu ataupun dana, tapi dari mental gue sendiri. Untuk mempersiapkan mental gue itu gak mudah. Gue gak pernah merantau sebelumnya, dan gue akan memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. Kalo mental gue gak benar-benar siap, mungkin di bulan pertama gue terbang, gue udah balik ke Bali karena gak tahan senioritas yang ada di pekerjaan ini.
Question    : Kakak punya mimpi lain yang ingin direalisasikan berikutnya?
    Banyak! Dan kebanyakan berhubungan dengan seni. Gue ingin menulis buku gue sendiri, itu yang kira-kira paling bisa gue wujudkan dalam waktu dekat ini. Selain itu gue ingin mendalami dunia sinematografi professional. Sebelumnya gue bisa dibilang sangat amatir untuk hal perfilman, tapi gue berharap suatu saat nanti kesempatan itu akan datang. Gue berharap suatu saat akan ada film pendek garapan gue yang memenangkan festival film indie di Indonesia. YEAH!
Question    : Apa keluarga dan sekitar mendukung keinginan Kakak?
    Syukurnya sih begitu. Mereka sangat mendukung dan itu penting bagi gue. Tanpa doa dan dukungan mereka, gue gak akan pernah ada disini. Mereka punya andil besar untuk keberhasilan gue hingga menjadi seorang pramugari.
Question    : Ketika Kakak bekerja, apa yang membuat Kakak semangat?
    Penumpang. Kadang meski udah landing ke-5 sekalipun, kalo gue ketemu penumpang baik hati yang menghargai profesi gue, semangat gue langsung gas pol ke titik tertinggi. Tapi selain bikin semangat, penumpang yang nyebelin bisa bikin gue dongkol dan berujung gak semangat kerja.
    Keluarga. Kalo gue inget ponakan gue, Ibu dan Bapak gue biasanya langsung semangat kerja. Bagaimanapun, kalo gue punya banyak duit, gue bisa pulang ke Bali dan bisa beliin ini-itu buat mereka. Bukannya gue sombong, tapi rasanya bahagaia banget udah bisa 'memberi' meskipun keluarga gue gak sekalipun pernah meminta. Gimana caranya gue punya banyak duit? Ya kerja. Jadi, tiap inget keluarga, gue selalu semangat terbang.
Question    : Apa suka-duka Kakak selama menjadi FA?
    Kalo suka, sepertinya karena gajinya yang cukup banyak yah, apalagi buat seorang yang Cuma punya ijazah SMA seperti gue. Bisa jalan-jalan gratis, wisata kuliner berbeda tiap harinya.
    Buat dukanya, gue jadi lupa kehidupan normal itu seperti apa. Kadang gue harus bangun tengah malam dan kadang baru bisa tidur pagi buta. Gak kenal hari raya, apalagi weekend. Direndahkan penumpang, padahal kesalahan itu bukan gue yang buat. Ah, banyak lah. Kalo diinget-inget, gue kadang jadi pengen resign aja. Jadi mending dukanya gak usah kita inget-inget yaa…
Question    : Apa pendapat Kakak jika ada orang bicara negative tentang profesi Kakak?
    Biasanya gue tertawa. Suatu kali, temen gue bilang 'kenapa sih mau aja jadi pramugari? Menang pamer paha kesana-kemari doank, duitnya gede. Gak halal! Ujung-ujungnya Cuma jadi simpenan pilot!' dan gue beneran ketawa. Gue ketawa karena minimnya wawasan temen gue ini tentang profesi yang sedang ia pergunjingkan. Gue memintanya untuk googling sebuah nama : Neerja Bhanot. Keesokan harinya, dengan gak enak hati ia mengirim pesan melalui BBM (ini masa saat gue masih pake BB) 'sorry buat yang kemaren. Ternyata kerjaan lo sekarang keren banget! Selamat ya, Din. Gue tau lo nantinya bisa jadi pramugari yang hebat!'
    Citra buruk diciptakan oleh manusia. Kalau dia hanya bisa bergunjing, mungkin ia hanya menutup mata dan telinga tentang mulianya profesi ini. Sekalipun gue ga bercita-cita menjadi FA, gue sangat berbangga bahwa gue mampu menjadi seorang FA. Hidup awak kabin Indonesia!!!
Question    : Hal positif apa yang Kakak dapat dari profesi ini?
    Banyak banget. Gue sekarang udah lebih bisa merawat tubuh dan wajah. Itu penting banget buat wanita. Gue belajar sabar dan mengontrol emosi gue, dan itu gak mudah. Seringkali gue 'slek' dengan penumpang dan gue hampir kehabisan kesabaran. Pada titik ini biasanya gue akan meninggalkan penumpang tersebut. Menenangkan diri dan mengatur nafas. Walaupun gue emosi, gue gak boleh menunjukkannya di hadapan penumpang.
    Gue juga menjadi santun ketika ada acara resmi, apalagi ketika pertama kali dikenalkan dengan keluarga pasangan gue. Dengan bekal etiket yang diberikan semasa training dulu, gue merasa diri gue jauh lebih baik daripada dulu. Dan ini akan menjadi bekal yang suatu saat nanti pasti akan berguna untuk kepentingan lainnya. Siapa tau next gue dilamar sama anaknya Raja? Lumayan buat jadi penggantinya Lady Diana. Hihihi :
Question    : Ada pesan untuk wannabees?
    Jangan takut untuk mencoba. Kebanyakan line atau DM yang masuk isinya tentang mereka yang gak percaya diri lah, takut merantau lah, tingginya kurang lah. Hey, bisa aja itu hanya penilaianmu sendiri. Coba dulu, dan lihat dimana kegagalanmu. Gue bukan pramugari senior, gue bukan pramugari SQ, tapi gue tetap seorang pramugari. Bukan masalah seragam yang lo pake, tapi seperti apa image yang akan lo ciptakan setelah lo berseragam. Pramugari airlines manapun tetaplah seorang pramugari. Mereka melalui serangkaian proses yang gak mudah. In case, lo gagal saat apply di Qatar atau SQ sekalipun, jangan pernah gengsi untuk mencoba maskapai negeri ini. Gak kalah bagus kok! Lo harus bisa ngeliat peluang. Kalo di SQ peluang lo masih tertutup, coba di maskapai lain. Setelah lo punya pengalaman, lo akan lebih diperhitungkan nantinya.

Minggu, 20 Oktober 2013

TIPS : Apa Yang Harus Dipersiapkan Sebelum Perekrutan

    
     Dalam satu hari ada sekitar 2-5 orang aktif nge-line gue. Ada yang cuma komentar bahwa dia suka sama blog gue, ada yang nanya kabar proyek buku gue (kalo yang ini cuma editor gue yang tau jawabannya), ada yang nanya soal suka-duka selama menjadi FA, dan yang paling sering dibahas adalah persiapan-persiapan yang harus dilakukan saat melamar pekerjaan menjadi seorang FA. Nah, berdasarkan hasil tanya jawab itu, akhirnya gue merangkumnya dan memutuskan untuk mempostingnya di blog. Jadi next time kalo ada yang nanya via line, tinggal gue sodorin buat buka blog gue deh. Lumayan buat nambah-nambah page-viewer. Hihihi.. Langsung aja yukk!

                1. PERCAYA DIRI : Modal utama buat jadi pramugari bagi gue pribadi adalah percaya diri. Yap, mau secantik Barbie, semulus porselen, atau Bahasa Inggris selancar mbak bule kalo lo gak percaya diri, harapan lo buat keterima itu kecil banget! Gue jujur aja gak termasuk kumpulan genk anak cantik semasa gue sekolah pramugari dulu di Jogja. Gue bahkan gak masuk prediksi lolos saat perekrutan di Lion karena gue gak cakep dan semok. Dimasa itu ada rumor berkembang bahwa yang bakalan keterima di Lion hanya yang berwajah putih bersih, kaki mulus tanpa bekas luka dan cantik. Dan mirisnya nama gue gak pernah disebut-sebut di daftar itu. Gue inget banget, temen gue yang bernama Bella, Desi dan Dina Corina lah yang diprediksi lolos karena mereka emang ‘kembang kampus’ kami. Sempet minder sih… Tapi tiap kali gue inget ‘DREAM BOOK’ gue, rasa semangat dan percaya diri itu muncul. Dan di hari perekrutan, gue menjalaninya dengan tenang dan avighnam astu, gue dinyatakan lolos sementara teman-teman gue yang malah diprediksi lolos itu justru gagal di perekrutan itu.
                2. CONTEKAN : Maksud gue disini, lo buat semacam kisi-kisi buat persiapan saat lo tes nanti. Simple, tapi penting banget! Gue dulu mempersiapkan perkenalan diri standar dalam Bahasa Inggris. Selain itu juga nyiapin daftar nama-nama Bandara besar di Indonesia, sejarah maskapai Lion Air (kalo lo apply di Lion loh ya), dan motivasi lo bergabung di maskapai tersebut. Gue menulisnya dalam Bahasa Inggris karena kecakapan kita berbahasa Inggris akan menambah poin plus saat perekrutan nanti. Jadi walaupun sebenernya lo gak fasih bener berbahasa Inggris, lo tetep keliatan gape karena udah hapal contekan yang lo bikin jauh-jauh hari. Banyak wannabees yang menyepelekan poin ini, padahal bagi gue ini adalah hal yang sangat penting. Kalo lo gak membekali diri lo dengan ilmu, tim HRD hanya akan melihat lo sebagai ‘gadis cantik otak kosong’. Gak mau kan dianggap seperti itu? Maka perbanyak wawasanmu tentang dunia penerbangan. Sharing ke Mbak ‘senior’ atau ikuti seminar-seminar tentang dunia FA untuk menambah wawasan. Selain itu mbah gugel siap membantu kok! Baca-baca blog gue juga siapa tau bisa membantu. Hihihi, sorry yah promosi!
                3. SIKAP : Udah bukan rahasia lagi kalo FA itu adalah profesi yang sangat diidamkan bagi kebanyakan wanita. Tapi memangnya mudah menjadi FA? Menjadi FA sejati itu sulit banget. Hampir 2 tahun ini buat mendekati kata ‘good work’ aja masih terasa sulit buat gue. Kadang gue masih suka susah bangun kalo dapet schedule pagi. Kadang gue masih suka galau di pesawat kalo lagi ada masalah di rumah. Padahal di materi etiket, gue diajarkan untuk mengontrol emosi gue dan be professional. Gue tidak boleh membawa masalah di rumah saat bekerja karena dipastikan akan mengganggu kinerja gue nantinya. Nah, maka dari itu kalian harus belajar dari sekarang.  Banyak sekolah kepribadian yang terbuka untuk umum. Atau untuk mudahnya, lo bisa nanya lagi sama Mbah gugel mengenai materi etiket dasar. Cara masuk ke dalam ruangan lah, cara duduk lah, berjalan, menunduk, cara berbicara dan lain-lain.
                Gue beri sedikit tips mengenai etiket saat lo memasuki ruang interview. Ketuk pintu tidak lebih dari 3x dengan pelan. Jangan pernah masuk dan duduk di kursi yang disediakan tanpa dipersilahkan terlebih dahulu dari para juri. Ucapkan salam saat memasuki ruangan. Jabat tangan para juri dengan tangan yang kering. Tangan yang basah membuktikan bahwa lo saat itu sedang grogi. Be easy. Nervous akan membuat lo stress dan ujung-ujungnya lo gak bisa berkonsentrasi menjawab pertanyaan para juri. Mulailah membiasakan diri untuk berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bukan berarti lo harus mengikuti gaya Vicky Prasetyo dengan bahasa Vikiisme yah, berbelit-belit dan ketinggian. Ikuti aja EYD yang berlaku. Ingat selalu ‘dari manapun kau berasal, hanya sikap dan tutur katamu yang akan menunjukkan kelasmu’.
                4. PENAMPILAN : Brain udah, behavior udah, tinggal beauty deh! Udah kaya Miss Indonesia aja yah? Hehehe.. Tapi emang bener loh, faktor beauty ini sangat diperhatikan saat mengikuti perekrutan. Sayangnya banyak orang yang salah kaprah menilai ‘menjadi FA harus cantik’. Padahal di selebaran pun dikatakan ‘menarik’ bukannya cantik. Cantik dan menarik itu berbeda, setuju ga? Menarik itu kecantikan luar dalam yang membuat orang lain betah berlama-lama memperhatikannya. Menarik itu bisa dibuat dari diri sendiri, kalo cantik biasanya keturunan atau hasil operasi tangan dokter. Jadi kalo lo ngerasa lo gak cantik, jangan minder. Sebagai FA, lo gak harus cantik. Dengan beauty class semasa training nanti, lo akan dibuat cantik. Biasanya tim HRD yang merekrut lo nanti sudah terbiasa untuk melihat potensi ‘menarik’ dari setiap peserta. Makanya seringkali ada yang berkata ‘dia jelek, kok keterima sih? Gue cantik gini kenapa ga keterima?’. Itu karena pihak juri tau, bahwa si A atau si B walaupun sekarang belum bisa memoles dirinya, tapi dia menarik dan nanti berpotensi menjadi cantik. Apa sih jurusnya buat keliatan menarik? Senyum! Serius, gue gak boong! Biasakan diri lo untuk tersenyum dengan tulus. Senyum akan menciptakan image humble pada diri lo, dan itu yang akan menarik hati para juri. Teruslah senyum sehingga senyum menjadi kebiasaan lo.
                Setelah lo terbiasa senyum, baru deh kita ke make-up. Beberapa maskapai memang mewajibkan FA-nya untuk bermake-up. ‘Tapi aku gak bisa make-up Mbak?’ Tenang… Nanti bakal ada beauty class kok! Tapi lo bisa mempelajari dasarnya dan bisa lo pergunakan saat nanti ikut perekrutan. Sebelum perekrutan lo harus mempersiapkan diri lo, terutama kebersihan badan. Rajin-rajin luluran supaya kulit mati keangkat. Paling tidak 2 minggu sekali, karena luluran terlalu sering juga gak baik. Jangan hanya di badan, scrubbing di wajah juga perlu untuk mengangkat kulit mati di wajah sehingga wajah lo nanti tidak terlihat kusam.
                Rajin-rajin mencukur bulu yang mengganggu. Bisa menggunakan wax atau shaving. Tapi kalau bulu lo ga terlalu mengganggu mah biarin aja. Kata orangtua jaman dulu, cewek yang berbulu itu sexy. Lalu kalau lo punya bekas luka (seperti gue), gue punya tips yang bisa lo pake saat perekrutan. Gunakan foundation padat dan aplikasikan di bekas luka. Setelah itu tepuk-tepuk dengan bedak yang senada dengan warna kulit. Itu adalah tehnik yang gue pergunakan saat ikut tes di lion. Daripada mahal-mahal ke dokter kulit, proses penyembuhannya juga lama, dan belum pasti juga keterima di maskapai. Bisa ditiru kok nanti saat terbang.
                Untuk riasan wajah, gue sarankan lo berkonsultasi dengan saudara atau sahabat yang memang ahli untuk urusan tata rias. Gue sendiri hingga kini belum terlalu mahir untuk berias. Saran gue jangan pernah berpikir untuk berdandan semenor mungkin. Ingat, kita akan melamar pekerjaan menjadi seorang FA, bukan main lenong.
                5. OPTIMIS : Banyak kasus temen gue gagal saat perekrutan karena pesimis melihat saingannya yang cantik-cantik saat tes. Akhirnya karena pesimis, ia gak bersemangat lagi mengikuti tes. Gue pun pernah merasa pesimis saat mengikuti perekrutan pertama gue. Itu kali pertama gue mengikuti perekrutan, dan saingan gue banyak. Tapi gue selalu inget DREAM BOOK gue. DREAM BOOK adalah buku gambar tentang cita-cita gue. Jalan-jalan gratis, memugar tempat sembahyang gue di rumah, membahagiakan orangtua, memiliki usaha sendiri, banyak deh! Gambar-gambar itu gue temple di DREAM BOOK yang gue buat saat gue sekolah di P3 Nusantara. Buku yang selalu memotivasi gue, bahkan saat gue menjadi FA. Jangan salah, setelah gue menjadi FA pun, gue pernah merasa tidak bersemangat. Tapi karena mimpi di DREAM BOOK gue belum tercapai seluruhnya, gue kembali bersemangat. Begitu pun saat perekrutan. Gue tidak membiarkan gigi gue yang gak rapi, make-up gue yang alakadarnya, bekas luka gue di lutut, dan juga ketomboyan gue menghalangi gue untuk menjadi Flight Attendant. Gue akan membuktikan kepada keluarga, gue berani meninggalkan rumah dan merantau jauh kesini demi masa depan yang lebih baik. Dan finally, gue bisa mencapai titik itu. 
     Yak, bagi gue cuma 5 poin itu kok yang harus dipersiapkan saat perekrutan. Kalaupun lo gagal, terus berpikir positif bahwa 'mungkin hanya belum saatnya. Gue harus belajar dari pengalaman dan memperbaikinya di perekrutan berikutnya'. Semangat ya kawan, gue tunggu kalian untuk terbang di langit yang sama, meski dengan 'burung besi' yang berbeda.
NB : Find me on twiiter @NandakitaRadin and Line ID radinnawikantari. by the way, ada acara meet and greet buat kamu yang berdomisili di Jakarta. Bisa follow akun @tentangmugari buat info lebih lanjut. Lumayan buat nambah ilmu dan tambah temen :)

Jumat, 18 Oktober 2013

The Butler dan Hubungannya Dengan Awak Kabin

     Sebenarnya, gue gak pernah memasukkan film The Butler ke dalam list film-film yang ingin gue tonton. Karena sedikit trauma akan film Gravity yang gue tonton berdasarkan rekomendasi banyak orang, tanpa sedikitpun mencari tau thrillernya seperti apa. Rencananya adalah, malam minggu kali ini akan gue habiskan dengan menonton midnight movie berjudul Escape Plan. Sebuah film action yang dibintangi Om-Om ganteng seperti Sylvester Stallone dan Arnold Schwarzenegger. Gue sempat beberapa kali melihat thrillernya dan gue memang sangat tertarik dengan tema film ini, selain juga karena gue adalah salah satu fans Om-Om itu.

     Acara nonton midnight gue buyar karena mendadak Maherda direvise untuk terbang ke Jayapura kemarin malam. Akhirnya menjandalah gue sepanjang akhir pekan nanti karena Maherda baru akan kembali pada Minggu siang besok. Sebelum memberitahukan bencana ini, Maherda terlebih dahulu merayu-rayu gue melalui telfon di hari Kamis siang.
Maherda : "Sayang, kamu mau ketemu ga ntar sore?"
Gue         : "Ga usah lah Mas. Kan Jum'at ketemu, trus Sabtu mau nonton midnight. Lagian, ada apa kamu nelfon gini? Curiga deh!"
Maherda : "Ga kok, aku pengen jemput sayang ke Balaraja. Om Herda kangen nih! Kalo gitu nontonnya ntar sore aja ya sayangku?"
Gue         : "Idih, kamu kenapa sih? Kepentok panel di cockpit ya?"
Maherda : "Ngga sayang, aku kangen banget sama sayang. Soalnya kan Jum'at aku mesti terbang ke Jayapura..." (kalimat terakhir sengaja diucapkan pelan-pelan)
Gue        : "HAH?! APAAN! KAN LO TERBANG KE PEKANBARU DOANK? TRUS BALIK JAKARTA JUM'AT SIANG?"
Maherda : "Zhhh, tenang sayang. Udah ga ada co-pilot lagi. Yang lain harinya ga cukup. Ga papa ya sayang, nanti kita nonton di Summarecon deh. Yah?"
Gue        : "Oke deh!"
     Hahaha... Gue akhirnya mengalah karena tawaran menggiurkan buat nonton di Summarecon Mall Serpong. Maherda paling gak mau diajak kesana karena Summarecon dikenal sebagai Mall AirCrew, dimana lo bakalan ngeliat, walaupun bukan dari Lion Air, pasti ada dari airlines lain yang lagi kongkow disitu, setiap harinya. Masalahnya adalah, Mall kesayangan gue ya disana. Gue suka suasana Downtown Walk di Mall ini yang seringkali diisi live music atau pernah suatu kali diisi oleh para penari line dance yang membuat mall ini terlihat semarak dengan acara-acaranya dan membuat gue merasa betah berlama-lama disana.
Sumber : disini
     Akhirnya gue mencari-cari film yang sekiranya bagus untuk gue tonton. Pilihannya hanya dua, Captain Philips atau The Butler.
     Captain Phillips yang merupakan kisah nyata dari tragedi pembajakan di tahun 2009 oleh para perompak Somalia. Kasus ini adalah pembajakan kapal kargo pertama di Amerika selama 200 tahun terakhir. Gue cukup tertarik karena gue suka film yang diangkat dari kisah nyata. Dan Tom Hanks bisa jadi jaminan untuk kualitas film ini. Seperti yang kita tau, Tom Hanks juga adalah salah satu aktor senior yang punya kelas tersendiri di dunia perfilman Hollywood.

     Sementara The Butler adalah sebuah film yang diangkat dari kisah Eugene Allen, seorang kepala pelayan di Gedung Putih United States yang mengabdi selama 34 tahun dibawah masa kepemimpinan 8 presiden. Kemampuannya dalam menjilat orang kulit putih menariknya dari seorang kepala pelayan salah satu hotel di DC, menjadi salah satu kepala pelayan di Gedung Putih.
     Setelah memperhatikan review film ini dari situs review favorit gue di metacritic.com, gue akhirnya memutuskan untuk memilih The Butler. Kenapa? Karena gue melihat bahwa akan ada pelajaran berharga yang bisa gue dapat dari film ini. Meskipun Metacritic hanya memberi nilai 66 untuk The Butler dan 83 untuk Captain Phillips, dan gue juga masih sangat awam dengan kasus perbudakan kaum Negro atau yang biasa disebut Afro-Americans. Gue pernah menonton film beberapa tahun lalu berjudul Abraham Lincoln yang menceritakan tentang usaha seorang pemuda bernama Abraham untuk menghapus perbudakan. Setelah ia dilantik menjadi Presiden AS di tahun 1860, ia harus dihadapkan dengan perang melawan Vampire. Ntahlah kenapa ada unsur Vampire yang masuk ke film ini, tapi film tersebut termasuk reccomended dari segi ceritanya yang unik.
     Meskipun perbudakan bangsa Afro-Americans telah dihapus melalui status hukum di tahn 1863, perbedaan ras masih dirasakan hingga kemudian muncul kelompok-kelompok di era tahun 1960-an, salah satunya adalah Gerakan Hak Asasi Manusia dibawah pimpinan Dr. Martin Luther King dan Roy Wilkins.
     Di film The Butler yang mengambil setting waktu tahun 1950-an ini diceritakan bahwa pemeran utama kita, Cecil Gaines (diperankan oleh Forest Whitaker) adalah anak seorang buruh di kebun kapas. Ayahnya ditembak mati oleh majikan laki-laki, dan Ibunya gila dan mulai jarang berbicara. Ia dipungut dan diasuh oleh Ibu dari sang majikan untuk kemudian diajari menjadi seorang pelayan. Tidak sekedar pelayan seperti Mbok Ijah dirumah orang kaya, tapi menjadi seorang pelayan yang beretiket.
     Setelah dewasa, ia memutuskan untuk pergi dan merantau. Ternyata dunia di luar rumah majikannya lebih keras dari yang ia bayangkan. Tak ada yang memberinya makan, tak ada yang memberinya pekerjaan, atau bahkan tempat berteduh. Ia mulai kelaparan, dan yang ia inginkan hanya makan. Ditengah malam ia terpaksa memecahkan kaca sebuah bar dan memakan roti yang ada. Setelah tertangkap tangan, ia kemudian dipekerjakan oleh salah satu pelayan yang juga berkulit hitam di bar itu. Cecil mempelajari banyak hal baru, termasuk untuk mengontrol emosinya dihadapan para tamu kulit putih yang seringkali mempergunjingkan kaumnya didepan matanya.
     Cecil kemudian ditawari pekerjaan baru untuk menjadi seorang kepala pelayan di salah satu hotel mewah di DC. Ia menjalani kehidupannya bersama sang istri, Gloria (diperankan oleh Oprah Winfrey) dan kedua putranya Louis dan Chalie. Cecil Gaines ditemukan oleh salah satu staff di Gedung Putih yang tertarik dengan pelayanan Cecil dan kemampuannya mengendalikan emosi saat diminta pendapat tentang 'bagaimana jika sekolah orang kulit hitam dan putih digabungkan'. Cecil memberi jawaban diplomatis yang terkesan 'menjilat' para tamu. Itulah yang kemudian menariknya untuk kemudian bekerja di istana presiden itu dimasa jabatan Dwight Eisenhower (diperankan oleh Robin William).
      Saat Kennedy menjabat, ia menjadi salah satu kepala pelayan yang paling sering dimintai pendapat tentang permasalahan ras di Amerika. Bahkan saat putranya, Cecil Gaines yang terlibat di komunitas Pengendara Kebebasan dan masuk penjara karena sikap pembangkangnya terhadap hukum, Cecil tetap bisa mengendalikan emosinya di depan Kennedy yang memiliki hubungan baik dengannya dan tidak pernah meminta bantuan presiden untuk membebaskan putranya. Ketika Kennedy ditembak karena upayanya untuk menghapus rasisme di Amerika, ia digantikan oleh Lyndon Johnson. Amerika berganti pemimpin dan Cecil tetap mengabdi demi pahlawan yang membela kaumnya, Kennedy. Ia menjadi seorang kepala pelayan yang disegani oleh kedelapan presiden itu. Ia bahkan diundang oleh Presiden Ronald Reagan untuk menghadiri jamuan makan malam sebaga tamu lengkap bersama sang istri. Itu adalah sebuah penghargaan besar baginya.
     Lalu pelajaran apa yang gue ambil dari film ini? Hanya satu, yaitu mengenai etiket. Etiket, atau dalam bahasa Prancis Etiquette bisa dibilang adalah tata cara yang berlaku dalam masyarakat beradab dengan hubungannya untuk membina hubungan baik dengan sesama. Cecil Gaines mengajarkan pada gue bahwa etiket itu sangat penting. Dengan etiket, ia mendapatkan respect dari orang lain. Dengan etiket, ia mampu membina hubungan baik dengan para presiden. Pelajaran etiket sangat gue butuhkan, terutama karena gue bekerja sebagai seorang Flight Attendant. Gue bukan seorang pembantu, gue ingin mendapat respect dari para penumpang sehingga mereka sadar bahwa gue bukan sekedar pembantu di pesawat. Pembantu tidak akan mengerti safety. Pembantu tidak diharuskan cerdas. Sayangnya, ga semua penumpang mengetahui itu dan akibat ketidaktahuannya, mereka menjadi semena-mena. That's why I need etiquette! Gue harus mendalami ilmu itu, belajar bersikap tenang dan mampu mengontrol emosi gue, seberat apapun masalah yang ada dipikiran gue saat itu. Ya, film The Butler memberi pesan moral akan pentingnya pelajaran etiket.
     Nah, jadi ketika kalian menemukan awak kabin yang ramah, anggun dan sopan, tapi kalian masih terus mencaci-makinya dengan katakata kasar, gue sarankan kalian ke ahli jiwa. Mungkin ada kelainan mental yang kalian idap tanpa kalian sadari. Jangan sampai, kalian melihat Kate Middleton di pesawat dan kalian nekat memakinya juga yaa :)

NB : psst, tau gak sih? Meskipun Kate adalah warga sipil biasa, tapi mengapa ia bisa masuk dan diterima lingkungan kerajaan Inggris? Salah satu kuncinya adalah karena etiket baik yang ia tunjukkan, hasil didikan sang Ibu yang merupakan ex flight attendant di British Airways. Gue jadi pengen punya anak perempuan nih, siapa tau kalo besar nanti bisa jadi istri dari anak pasangan Kate dan Prince William.    

Rabu, 09 Oktober 2013

Mari Berkarya Sineas Muda

     Gue adalah seorang penggemar film. Mau film Indonesia, India, Box Office, Triangular Office, Office Boy sampe 3GP In The Office gue suka. #loh? Intinya, gue gak terlalu milih genrenya apa, pemainnya siapa, menang berapa penghargaan, dan bla bla bla. Asal bagus menurut gue, pasti bakal gue tonton. Darimana gue tau bagus atau engga sebelum gue tonton langsung?
Biasanya gue cari tau di Mbah gugel apakah film ini reccomend atau engga. Kalo ya, seperti apa tanggapannya. Kalo engga, juga seperti apa penilaiannya. Karena tentu, bagus menurut orang lain belum tentu bagus menurut gue. Dari beberapa pengamatan dari orang-orang berbeda, barulah gue memutuskan apakah film itu layak tonton atau engga. Kadang ada yang udah gue anggap 'wah, bagus nih film!' tenyata malah mengecewakan. Ada juga gak banyak yang merekomendasikan, ternyata bagus banget. Contohnya film Killing Season yang dibintangi 2 aktor senior, Robert De Niro dan John Travolta.
     Kebetulan, kemarin ketika gue nonton film RUSH di XXI Mall Pejaten Village, gue melihat selebaran tentang diadakannya lomba film pendek yang diselenggarakan oleh XXI. Sebagai seorang penikmat film, dan sedikit banyak pernah mempelajari dunia sinematografi, gue tentu sangat tertarik untuk ikut bergabung. Gue langsung teringat dua konsep garapan gue dari jaman SMA yang belum terealisasi hingga sekarang. Selendang Kartini yang berupa konsep film naratif dan Perjalanan Tangan Ke Tangan yang berupa konsep film dokumenter. Masalahnya adalaaahhh... gue gak punya crew! Gue gak punya kamera, gue gak punya pemain, gue gak punya editor (karena adobe premiere yang biasa gue pake buat edit film udah expired ntah dari kapan), gue gak punya bum, gak punya reflector, gak punya... AARRGHH! GUE GAK PUNYA APA-APA! Oke, gue mulai agak realistis. Ikut perlombaan selevel itu pasti membutuhkan biaya. Dan itu gak sedikit pastinya. Tapi passion gue untuk kembali membuat film pendek dikobarkan lagi akibat keingintahuan Rahman, anggota komunitasJamban Blogger tentang keseruan tulis menulis script pada film pendek. Sebenernya gue pun gak bisa dibilang gape bikin script. Gue hanya seorang penulis naskah teater, berbekal sedikit info dari Mbah Gugel, gue memberanikan diri untuk membuat naskah film pendek. Jadi bener atau engganya script bikinan gue ini, cuma para script-writer sesungguhnya yang tau. Hahaha. Buat @Rahmanucup gue udah berusaha banget nyari script gue yang udah pernah gue bikin sebagai film pendek, tapi ntah lah dimana keberadaannya. Ada dua, judulnya Kepingan Hidup dan Regenerasi Penari. Tapi gue bukain semua file berbentuk ms.word dengan harapan ada satu aja sample yang bisa gue kasi liat ke elo. Kalo naskah teater, udah pernah gue posting di blog dengan judul Replika. Nah, finally gue ketemu naskah yang setengah jadi proyeknya. Tapi gak papa lah, lo cuma perlu contoh kan, even gue ngerasa, ini gak pantes buat dicontoh, tapi lumayan lah. Nostalgia ini bisa membangkitkan kembali gairah gue dalam bidang yang satu ini. So? langsung aja lah... Gue belum punya judul buat script satu ini, yang jelas ini script pesenan Kakak sepupu gue yang mangkrak di tengah jalan karena gue sibuk ujian. Mohon maklum aja kalo script ini sedikit berbau FTV


1.       Int. Lorong Sekolah.
(Narator : Radit. Berkali-kali putus cinta karena sifatnya yang over dalam banyak hal. Over cuek. Over jealous.  Over protective. Over deh pokoknya.)
Ajeng                    : “Kayanya kita mending putus aja deh.”
Radit                      : “Lho? Kenapa?”
Ajeng                    : “Kenapa? Radit nanya kenapa?? Radit tuh terlalu cuek, tau ga sih! SMS duluan ga pernah, nelfon jarang, ga ada romantis-romantisnya! Pacaran sama Radit, Ajeng berasa pacaran sama beruang kutub! Ajeng ga betah!”
Radit                     : “Tapi-“
Ajeng                    : “Tapi apa???”
Radit                     : “Bukannya yang penting dari suatu hubungan itu, cinta, ya?”
Ajeng                    : “Iya, emang sih. Tapi emangnya Radit cinta sama Ajeng?”
Radit                     : (zoom close up to Adit) “Gak tau.”
Ajeng                    : (zoom close up to Ajeng) “Arrrggghh!!!”
                (Narator : Well, itu kegagalan pertamanya. Ga mau dicap cowok peralihan manusia-beruang kutub, akhirnya dia berusaha menghilangkan sedikit demi sedikit sifat cueknya. Dan ow-ow . . . (Kirana and Radit in frame)
Kirana                   : “Kayanya mending kita putus aja deh.”
Radit      `               : “Lho? Kenapa??”
Kirana                   : “Kenapa? Kamu nanya kenapa? Kamu terlalu cemburuan!”
Radit                      : “Wajar aja lah, namanya juga pacaran.”
Kirana                   : “Iya, tapi masa aku jalan bareng temen-temen cewekku juga kamu cemburu?? Pacaran sama kamu berasa kaya pengidap HIV. Terasing! Ga bisa bergaul! Aku ga betah! Pokoknya kita putus!”
                (narator : Seperti yang kita duga, saudara-saudara. Gagal lagi. Oke, back to the topic. Radit tidak mau menyerah. Berbekal motto ‘Belajar dari Pengalaman’, dia pun mencoba lagi. Dan kali ini, masih di lorong sekolah yang sama . .
Key                        : “Kayanya kita mending putus aja deh.”
Radit                      : “Lho? Kenapa??”
Key                        : “Kenapa?? Elu nanya kenapa?? Heh, nyadar ga sih? Elu tuh over protective! Curiga ga jelas! Kemana-mana dikintilin, gua berasa mafia Hongkong yang lagi diincer CIA, tau gak? Gua ga betah!!”
Radit                     : “Tapi-“
Key                        : “Ga ada tapi-tapian! Pokoknya kita putus!”
                Jdeerrr. Bukannya sukses, malah kandas di tengah jalan lagi. Kali ini malah lebih parah, Radit ga dapet kesempatan buat berargumen. Dia sudah berusaha melakukan berbagai macam cara untuk menjadi idaman wanita. Tujuannya Cuma satu. Hubungan yang serius. Walaupun dia lupa satu fakta penting, untuk suatu hubungan serius, kita harus menerima pasangan kita apa adanya.Terutama, segala kekurangannya.
                Di kejauhan, seorang gadis manis, teman si Key sedang menertawakan dirinya. Putri. Gadis yang ditakdirkan (seenggaknya dalam cerita ini) untuk menyadarkan Radit tentang fakta penting di atas.
                And the story has been begin . . .
2.       Ext. Kantin. Siang.
(Radit dan Pipin sedang mengobrol perihal kegagalan cinta Radit yang ntah untuk keberapa kalinya.)
Pipin                      : “Putus lagi, Dit? Sekarang kenapa lagi?”
Radit                      : “Katanya aku over protective.”
Pipin                                      : “Gyahahahaha. Dulu, berasa pacaran sama beruang kutub. Abis tuh, ngerasa kaya lesbian pengidap HIV. Sekarang?”
Radit                     : “Mafia Hongkong yang jadi buronan CIA! Puas lu?”
Pipin                      : “Gyahahaha, sumpah, Dit! Lucu banget!! Alasannya bervariasi, kreatif lagi! Gyahahahaha. . .”
Radit                     : “Prihatin dikit kek, ga solid banget lu!”
Pipin                      : “Haha, bentar-bentar. Aku rem ketawaku dulu. Ehm-ehm. Oke, test? Sipp. Udah. Nah, better kamu turutin nasehat aku deh, Dit.”
Radit & Pipin      : “Nikmatin masa muda, senikmat-nikmatnya!”
Pipin                      : “Masa kaya kita karang ini Cuma bentar, Dit. Dan ga bakal keulang buat kedua kalinya. Jadi kalo ga dinikmatin sekarang, kapan lagi? Ga usahlah terlalu serius soal pacaran. Putus cinta mah udah biasa kale, Buwk. Karena justru disana esensinya masa SMA!”
Radit                     : “Pandangan orang kan beda-beda. Menurutku, selagi kita ada waktu, kita mesti manfaatin sebaik-baiknya. Kalo ga dari sekarang kita belajar menjalin suatu hubungan yang dewasa, kapan lagi?”
Pipin                      : “Kapan? Yah ntar, Dit, kalo kita udah dewasa beneran.”
Radit                     : “Dewasa itu ga diukur pake waktu, Pin, tapi sikap. Kalo kaya gini terus, biar udah 30 taon, kita tetep ga bisa dibilang dewasa!”
Pipin                      : “Ah, teorimu selangit, Dit!”
Radit                     : “Yee, itu lebih bagus, daripada kamu? Nonsense!
Pipin                      : “Theory without practice is same with this! (Membuat angka ‘0’ dengan jarinya) Telor bebek, Dit!”
Radit                     : “Terserahmu lah, Pin.”
                (Radit dan Pipin melanjutkan aktifitas makan mereka dan mengobrol hal lain seperti biasa.)
3.       Int. Kamar Radit. Malam.
(Radit sedang menulisi diarynya, tiba-tiba kakinya dijilati oleh sesuatu yang basah, lengket, dan menjijikkan.)
Radit                                      : “Dinaaa!!! Si Micha masuk kamar Kak Radit! Keluarin cepetan, sebelum Kak Radit jadiin sate RW nih anjing!”
Dina                       : (Datang dan memungut Micha) “Kenapa sih? Gawat banget! Micha kan lucu?”
Radit                     : “Jijik tau! Bawa jauh-jauh sana! Sebelum kakak tembak pake senapannya Ayah!”
Dina                       : “Weks, Dina ga mau! Ayo Micha, jilatin terus.”
Radit                     : “Hey, sampe berani itu anjing jilatin kaki kakak lagi, kamu siapin kuburan mini deh di belakang rumah!”
Dina                       : “Huhuhu, Ayaaaahhh!! Kak Radit jahaaattt!!!”
Ayah                     : (Datang sambil membawa Koran.) “Aduh, kalian berdua. Udah, Dina, bawa Micha turun.”
Dina                       : “Ugh!”
Ayah                     : “Udah minum obat, Dit?”
Radit                     : “Udah, Yah.”
Ayah                     : “Ayah udah mintakan ijin sama guru kamu, seperti biasa. Tapi pulangnya kamu tetep harus sekolah, Dit. Kamu udah kelas 3.”
Radit                     : “Iya, Yah.”
Ayah                     : “Udah, kamu tidur gih. Jangan begadang.”
Radit                     : “Iya, iya.”
(Ayah menutup kamar Radit, Radit menutup diarynya dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia mengedipkan matanya beberapa kali hingga akhirnya ia tertidur.)
4.       Int. Kamar Radit. Pagi.
(Radit membuka matanya. Rambutnya acak-acakan. Ia menghidupkan computer dengan mata setengah terpejam, lalu beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu, agenda wajibnya adalah ber-online ria. Ia membuka facebook dan mendapati Pipin sedang online.)
Pipin                      : “Heh, beruang lesbi dri Hongkong yg ngidap HIV! LOL. Gg scuwl?”
Radit                      : “Ga lah, bys. Agenda blnan.”
Pipin                      : “Ky siklus mens z lu, Dit. Blnan! Ywda de, aQ mo brngkt scuwl. Ntp psn?”
Radit                      : “Klo ktm Pak SBY d jln, titip psn, jgn naikin hrg minyak yh!”
Pipin                      : “Sarap!”
(Pipin offline. Radit baru akan sign-out, ketika sebuah nama menghentikan pointernya.)
Putri                      : “Hai, Raditya Prihandana kn?”
Radit                      : “Yo’e. Ko tw?”
Putri                      : “Iya lah. Itu nama’a kan keliatan. Hehe.”
Radit                      : “Hehe, iya yh? Bego bgt gw. Eh, km tmn’a Key bukan?”
Putri                      : “Iya, slm knl yh.”
(Ibu Radit tiba-tiba masuk dan mengajak turun.)
Ibu                         : “Radit, ayo turun, sarapan dulu!”
Radit                      : “Bentar, Bu.”
Ibu                                         : “Ini anak keterlaluan deh kalo udah di depan computer. (Mendekati Radit dan mematikan computer) Cepet turun! Sarapan, mandi, trus berangkat. Dokternya bisa kudisan nunggu kamu!”
Radit                     : “Yah, Radit kan lagi chatting, Bu.”
Ibu                         : “Bisa dilanjutin ntar! Udah, turun sekarang juga! Ntar Ibu suruh Dina bawa Micha sama sodara-sodaranya kesini!”
Radit                     : “Isss!”
(Radit terpaksa turun. Sejenak dia lupa akan percakapan singkatnya dengan Putri. Tapi ternyata, percakapan singkat via FB itu beranjak ke percakapan langsung di sekolah Radit keesokan harinya.)
5.       Int. Kelas Radit. Siang.
(Radit memasuki kelas dan mendapati beberapa teman sedang sibuk membuat pe-er Dia menghampiri Pipin.)
Radit                      : “Pin, aku naksir cewek!”
Pipin                      : “Ya iyalah cewek, masa cowok? Emang lu homo??”
Radit                                      : “Serius, Pin! Namanya Putri, temennya Key. Kamu kan lumayan deket sama Key, bisa donk bantu aku deketin Putri?”
Pipin                      : (Menghentikan akktifitas membuat pe-ernya) “Kapan sih aku ga bantuin kamu, DIt?”
Radit                     : “That’s what friend really do. Thank U so much, Pin!”
Pipin                      : “Ahh, udah ah! Kaset lu gitu-gitu aje! Aku mo buat pe-er, kamu ga bikin?”
Radit                     : “Karang deh, karang. Coba liat!”
(Radit dan Pipin membuat PR bareng.)
6.       Potongan adegan Radit yang mulai pendekatan dengan Putri, hingga suatu hari . . .
Radit                                      : “Put, ga kerasa kita udah 2 minggu deket. Dan, ehm, dua minggu itu udah bikin aku menyadari sesuatu.”
Putri                      : “Oh ya? Apa, Dit?”
Radit                     : “Aku mulai menyukaimu.”
Putri                      : “Aku. . .”
(Radit menggenggam jemari Putri. Dan dua bibir kecil itupun mengikrarkan cinta.)
Putri                      : “…juga.”
(Radit tersenyum dan memeluk Putri mesra.)
7.       Int. Kamar Radit. Sore.
Pipin                      : “Radiiittt!!!”
Radit                     : “Gila! Gak pernah sepi ya lu tiap kesini? Kenapaa??”
Pipin                      : “Hehe, kangen tauk! Lu kaga’ ada kabar dua minggu ini. Kemana aja sih??”
Radit                     : “Gak kemana-mana kok Pin, di sini aja, masa di Ragunan??”
Pipin                      : (melihat foto Putri) “Lho? Dit?"
Radit                     : “Eh iya, sorry Pin. Aku belum sempet beli frame, jadi aku pake frame fotomu dulu.
  
  Yap.. Kan gue emang bilang ini adalah script yang belum kelar. Tapi mudah-mudahan bisa jadi bayangan walaupun jauh dari kata sempurna. Meskipun terlalu tinggi untuk bermimpi, tapi gue percaya, suatu hari nanti kita pun bisa mengangkat kualitas industri film dalam negeri kita ini. Selamat berkarya sineas muda :)
NB : find me on twitter @NandakitaRadin atau line dengan ID radinnawikantari. thanks all.